Libur Lebaran Bali 2012

image

Alhamdulillah…
Setelah kami menikah kurang lebih enam tahun, barulah kami dapat berkesempatan mengunjungi Bali dan mengajak istri mengunjungi keluarga di Bali. Ayah Ibu dari Bali sering datang ke Jogja, namun kami yang belum berkesempatan. Kendala pekerjaan dan dana, adalah dua faktor yang menyebabkan rencana mengunjungi Bali, tidak bisa dijalankan. Sekiranya saya masih mahasiswa dulu, ke Bali mudah saja : Hop, naik bis malam, dan 20jam kemudian sampailah. Namun saya tidak mau anak istri merasakan lelahnya menaiki bis malam Jogja-Denpasar tersebut. Akibatnya, mereka jadi harus menunggu sampai dana untuk Jogja – Denpasar dengan menggunakan pesawat terbang tersedia. Pekerjaan sebagai konsultan nasional di proyek UNREDD milik FAO memudahkan itu semua. Alhamdulillah…

 

Rencana tersebut juga mendadak saja. Sebelumnya saya tidak berpikir akan bisa mengunjungi Bali pada lebaran kali ini. Saat di BPKH Palu untuk keperluan training aplikasi, tiba-tiba saja ide tersebut muncul (atau diilhamkan Allah, jika menggunakan perspektif religius..). Dan, saya serahkan urusan ticketing ke adik saya yang mengelola apartemen Jayakarta di Bali.

 

Perjalanan ke Bali dimulai dari Jakarta, karena sebelumnya Ela dan anak-anak berada di kampung Subang, mertua saya. Karena saya paranoid kalau sampai terlewat pesawat, maka kami sudah ada di bandara Soetta mulai jam 3.30 sore, dimana pesawat baru berangkat jam 20.40 (yah, selain itu saya juga lupa kalau tanggal 17 sudah libur, sehingga seharian itu saya enggak berangkat ngantor).

Jadwal Keberangkatan

Tapi, dengan anak-anak, menunggu di Bandara menjadi pengalaman yang mengasyikkan : berputar-putar dan melihat antusiasme Al-Fath dan Al-Kahfi, merupakan keindahan yang tak terlukiskan.

Dengan anak-anak di Soetta

Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 1 jam 50 menit. Antusias Al-Fath saat pesawat akan takeoff sangat menyenangkan untuk dilihat. Puas rasanya melihat hal tersebut… 🙂 Sayang karena penerbangan malam, pemandangan laut dan awan tidak bisa dinikmati, walhasil sebelum sampai Bali, Al-Fath sudah tertidur..

 

Namun, sebagai gantinya, Al-Kahf yang terbanung saat pesawat sudah landing : dan lagi-lagi antusiasme Al-Kahf melihat pesawat yang besar dengan mesin yang menderu, sungguh2 indah untuk dikenang…

Di bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali, saya justru yang merasa asing. Saat supir taksi yang akan mengantar dan berkata, “Tunggu disini ya Pak, saya ambil taksi dulu”, dengan logat T yang khas warga Bali, barulah saya tersadar, “I am back, home…”

 

insya Allah continued… wandering around in Bali with Ela and The Kidz.. 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s