Freelancing: perbedaan antara freelancing offline, online dan fulltime remote employee — Dan tahap selanjutnya…

Acara ini seru! Banyak berbagi dan saling memotivasi. Penting: karena dunia freelancing macem dunia maya. Ga terlalu jelas track-nya
Acara ini seru! Banyak berbagi dan saling memotivasi. Penting: karena dunia freelancing macem dunia maya. Ga terlalu jelas track-nya. http://jogjafama.splashthat.com

Kadang kalau kita mikir freelancing, atau denger seseorang bilang freelancing, pemahaman subliminal kita gini, “Owh, orang yang ga pnya kantor, terus dia pindah dari satu job ke job lain, dan dibayar begitu job selesai”. Gitu? Boleh dibilang iya, tapi itu sekedar salah satu case aja. Saya coba disini mendaftarkan beberapa tahapan “freelancing”: yang sebenarnya malah ada jenis yang ga bisa dibilang freelancing lagi. Let see ya (sebagai “freelancer”, coba letakkan dirimu dimana di daftar ini).

  1. Freelancer offline.
    Saya bilangnya .. freelancer acak-adhut 😀
    Why? Soale blas ra jelas jenis freelancing-nya gimana. Segala job disamber aja (demi dapur ngephul). Kerjaan yang digarap sifatnya lokal deket2 rumah aja. Kadang ngerjain job yang mayan gede: tapi harus pergi ke kota lain, nggarap disana. Balik ke kota asal, masih tetep mikir maintenance kerjaan yang di kota lain tersebut. Enak? Ga banget. Puyeng. Mana bayaran ya .. masih ga bener juga. Podo wae (cuman dah mulai ada kebebasan kerja. Masih okay)

    Umumnya asosiasi freelancing itu ada di definisi yang ini: padahal ga selamanya bener. Kemungkinan besar, semua freelancer pernah ngalami masa-masa jadi freelancer acak-adhut ini. Kalau Anda sampai ga pernah mengalami fase ini: selamat! Kemungkinan Anda mulai berkarir di saat gerakan freelancer online sudah mulai umum (ya sekitar 2012 ke atas)

  2. Freelancer online.
    Bottom line: bayarannya pakai kurs USD gaes! (nasionalis banget saya yaks.. haha)
    Bersyukurlah Anda jika memulai karir langsung di fase ini: nasib yang baik. Freelancer disini menggunakan satu layanan website marketplace kerjaan-kerjaan online yang berasal dari seluruh negara yang ada di dunia (not an exaggeration there! Cek: upwork.com atau freelancer.com). Kerjaan dibagi menjadi dua macem: fixed price (dibayar kalau dah rampung, atau berdasarkan termin tertentu) dan hourly (begitu mulai kerja: saat itu sudah dibayar). Karena history pekerjaan tercatat secara online, semua freelancer mendapatkan semacem track record/prestasi pekerjaan yang bisa dilacak dengan jelas. Begitu satuuuu saja pekerjaan online bisa Anda rampungkan: itu akan jadi landasan yang bagus sekali untuk kerjaan berikutnya.

    Meski disini freelancer masih harus apply job baru jika job yang lama sudah selesai, tapi kompleksitas yang aneh2 ada di jenjang freelancer acak-adhut sudah ga ada lagi. Sekedar duduk manis di depan Macbook (apa? laptop? ganti dunk.. wkwkw), Anda akan bisa berburu job baru: yang sesuai keinginan. Beda banget kan dengan job offline yang kadang Anda ga bs nolak? (Mau dapur ga ngepul apa kalau nolak?…)

    Tapi yang asyik itu, kalau Anda jadi …

  3. Fulltime Remote Employee
    Damai.
    Kadang-kadang malah terlalu damai: jadi rada boring. 😀
    Fulltime Remote Employee itu sama persis, plek, dengan pekerja kantoran biasa yang punya load kerja 8h/day, 40h/week, tapi semua pekerjaan dikerjakan dari rumah. Bayaran sudah bukan per-job lagi. Tapi yaa gaji. Macem pegawai kantoran Bulanan. Tapi tetep Anda dibayar berdasarkan waktu yang Anda log sebagai waktu kerja. Kalau sakit misalnya. Ya udah. Ga dibayar 😀 (beda yaks sama pegawai yang tetep dibayar meski sakit. Atau malah ada jaminan asuransi segala)

    … tapi tetep lebih enak kerjaan fulltime remote employee ketimbang kantor lokal. Lha wong 1 minggu kerja remote, itu bisa setara dengan 2 bulan kerjaan lokal. Mana ga ada stuck di trafik pulax…

    Mudah ga dapet kerjaan fulltime? Mudah.

    Syaratnya: Anda harus punya portfolio yang mengesankan (github/blog/etc) dan punya prestasi kerja yang bagus di awal-awal bekerja di job yang saat itu masih bersifat paruh waktu (paling di-test 1-2 minggu aja).

    Don’t worry. Hanya kasus khusus saja seorang freelancer online ga bisa jadi fulltime remote employee (atau ada juga yg ogah jd fulltime remote employee: pingin tetep bebas). Anda akan beruntung kalau nyemplung di perusahaan startup atau yang sudah established. Itu selama perusahaan masih ada (dan Anda bagus kerjanya), sudah deh. Fulltime pasti 🙂

    Penekanan saya satu hal aja: make sure komunikasi lancar. Anda selalu bisa online di Skype (atau media chat yg lain untuk bekerja). Respon email-email yang berhubungan dengan kerja cepat.

    Dan jujur.

    Jujur? Ya. Jujur di dimensi kerja jarak jauh ini sering rumit lho. Misalnya, kalau ada halangan kerja (either teknis / non teknis), jujur aja. Jangan ditutup2i (awal2 kita kadang pengin sebaik2nya, terus jadi ga berani jujur). Kalau ga bs ngerti suatu baris kode misalnya: tanya aja. Jangan malu. Kalau misal satu hari itu ga ada progress, jangan tutup2i, “Sudah jadi bos”. Terus diutak-atik semalem.. stuck. Gawat itu. Jujur aja ga bisa: senior pasti mau banget ngebantu.

    Kalau Anda sudah jadi fulltime remote employe, maka langkah selanjutnya adalah…

  4. Startup (?)
    Kok pakai tanda tanya dikurung segala?
    Lha ya saya juga belum mulai. Wkwkwkw. Jadi saya kasih tanda tanya aja deh

    Tapi intinya, disini Anda mengurangi load kerjaan pribadi, dan didelegasikan ke individu/team/staff lain.
    Untuk apa? Main-main? Enggak.

    Load waktu yang sudah bebas, Anda gunakan untuk mengeskplor berbagai kemungkinan kerja yang kemarin-kemarin ga mungkin dilakukan karena Anda masih sibuk jadi fulltime remote employee.

    Terserah: mau nulis buku, garap produk atau belajar hal yang baru.. terserah.
    Tapi sudah jauuh lebih nyaman: cash-flow sudah terjaga kan ?

Kurang lebih begitu.

Semoga bermanfaat!

PS: Artikel ini saya tulis sebagai jawaban salah satu teman yang sudah berhasil nembus kerjaan oDesk/UpWork dengan rate petugas kebersihan di Australia ($15/hour… coba deh kali dengan 160jam x Rp. 14.000.. sebulan dpt berapa tuh?). Doi bertanya, “Gimana cara supaya cepat jadi fulltime employee?”

Nah sekalian saya tulis yang rada lengkap deh!

Advertisements

2 thoughts on “Freelancing: perbedaan antara freelancing offline, online dan fulltime remote employee — Dan tahap selanjutnya…

  1. A. Dzulfikar Adi Putra

    Lg cari-cari informasi tentang kerja remote, biar bs ada waktu lebih bareng keluarga. Eh muncul nama mas Eko yg melegenda nih di grup fb Upworker Indonesia atau Kami Kerja Remote saya gk ingat pastinya. Jadinya nyasar di postingan ini.

    Salam kenal mas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s