Anniversary Pernikahan yang ke-9

Bagus bener ini: waduk deket rumah.

A post shared by Eko S Wibowo (@swdev) on

Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober kan? Nah pernikahan kami besoknya 😀

Kalau inget saat pernikahan 8 tahun yang lalu tersebut, sering heran sendiri. Utamanya saya baru nyadar, ternyata kalau saya sudah menetapkan suatu niat… blas ga bs dibelokkan. Atau, kalau saya tau akan ada blocking issue, .. saya akan buat supaya issue tersebut ga ada deh: strategically. 😀

Saat saya memutuskan menikah dengan Ela, semuanya berlangsung super cepat:

  1. Hari 1 menyampaikan niat (via YM. haha). Ela kagetlah: lha wong mendadak. (Sudah setahun sebelumnya kenal dan ketemuan jg di acara pernikahan salah satu temen MyQuran).
  2. Hari 2 Ela menjajagi hal-hal tentang saya. Utamanya sih, tentang sorban yang saya pakai saat acara pernikahan teman MyQuran tersebut..
  3. Hari 3 deal tanggal pernikahan (lebaran + 5hari). Setelah deal, saya telpon orang tua Ela (via Wartel… eh, kok saya ga punya handphone ya saat itu?). Orang tua saya sendiri? Belum boleh tahu dong. Ntar jelas rame. Haha

Ya sudah. Begitu aja plan-nya.

Eksekusinya yang rada hati2:

  1. Uang darimana nih mau nikah? 😀 Minta casbon ke kantor, Gamatechno, .. 1.5jt kayaknya. Untuk mahar. Meski, mahar dari saya sebenarnya hafalan Surat Ar-Rahman aja sih, tapi setelah saya tanya-tanya, Ela ingin tafsir Al-Mishbah. Okok. Diusahakan (kayaknya habis 1.1jt)
  2. Orangtua saat itu masih di Purwokerto, minta dianter ke Bali. Okok. Saya jemput, tapi ga bilang2 dong… susah kayaknya disetuji kalau mendadak gini. Begitu ortu sudah sampai di Bali, saya telpon deh, “Pah, Bowo mau nikah”. “Apaa?? gimana2? sama siapa? kapan?” Hahaha. Tenang-tenang. Ga akan bisa ke Jogja juga. Hihi. Saya minta ijin dan ridho aja. Ga perlu dateng. Laki-laki ga butuh wali lho.. :). Kesimpulan: .. ya pasti setuju lah. Wong hari H sudah ditetapkan.
  3. Malam mau berangkat, saya berusaha hafalkan surat Ar-Rahman di Masjid Al-Ittihaad. Bisa alhamdulillah.
  4. Besoknya berangkat ke Subang, maunya sendirian aja sih, tapi karena bawaan Al-Mishbah berat banget, ada temen dari Ittihaad yang nemani, Mas Sa’ad. Alhamdulillah. Ga kebayang gotong2 sendiri. Mana saat itu kereta ekonomi masih sesuka-sukanya pula: walhasil, kami ga dpt tidur. Berdiri aja berdua di gerbong … dari Jogja sampai Subang. Huaaaa
  5. Sampai sana…. ya itulah pertama kali saya punya pengalaman ngapel cewek.. dan besoknya akad. 😀
  6. Akad alhamdulillah berjalan dengan lantjar tjaja, dibarengi dengan acara syukuran haji bapak mertua… cuman lepas itu kurang euy, biaya untuk penghulunya (saya kan cuman modal uang casbon yang dah jadi Al-Mishbah?). Walhasil bayar pakai uang hadiah temen2 MyQ yang dateng.
  7. Selesai

Beberapa hari kemudian kami ke Bandung (Ela kost di Gerlong), dan saya balik ke Jogja (pulang2 bonus laptop.. haha). Beberapa minggu kemudian Ela ke Jogja, tapi masih harus balik ke Bandung (masih kerja di ITB). Kemudian resign dan mengikuti saya ke Jogja…

…. sampai sekarang. Dikarunia dua buah hati yang semoga dijaga kebahagiaannya dan membahagiakannya: Al-Fath dan Al-Kahf

Alhamdulillah.
Semoga langgeng dalam keberkahan, bahagia dan membahagiakan.

Amiiiin

Advertisements

2 thoughts on “Anniversary Pernikahan yang ke-9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s