Ultah Kahfi ke-5, Ultah Senzala ke-16, One-Month Trial@SaleStockIndonesia dan Project Lead Jogja Hackathon Merdeka 2.0

In chronological order, this post summarized all four events happened in my life!

Ultah Senzala ke-16! Semangat dan melepas semua beban, untuk berbaur dalam alunan ritmis berimbau!

A post shared by Eko S Wibowo (@swdev) on

One month trial in this amazing startup with fast growth!

A post shared by Eko S Wibowo (@swdev) on

Hackathon Merdeka 2.0!

A post shared by Eko S Wibowo (@swdev) on

Totally amazing and challenging life!

Advertisements

Capoeira Senzala Batizado and Troca 2013, Bali : Pursuing my higher step in Capoeira

Dia memberi apilido bagi saya : El-Genio. Jin! Dan dia inget sekali dengan apilido ini, "El-Gen! Stretch your movement even more!".... "Thank  you Genio!".  Semangat!!!!
Dia memberi apilido bagi saya : El-Genio. Jin! Dan dia inget sekali dengan apilido ini, “El-Gen! Stretch your movement even more!”…. “Thank you Genio!”. Semangat!!!!

*still in draft*

Kecintaan saya pada Capoeira, sudah setingkat dengan kecintaan saya pada programming. Saya sadari ini pada saat Troca dan Batizado Senzala Bali 2013 ini. Saat itu saya sedang membathin perasaan senang dan semangat karena menekuni Capoeira, dan tiba-tiba terbetik pertanyaan yang sama dengan saat hal serupa terjadi dengan senang dan semangat saya pada dunia pemrograman, yaitu, “Yah, tapi di Surga nanti ada Capoeira enggak ya?”. Hehe, sesungguhnya ini pertanyaan naive. Namun, ya apa boleh buat. Saya memang naive dan a little childist. Namun jawaban atas pertanyaan ini ada pada sebuah hadits, tentang ahli surga yang kurang lebih berikut ini :

Seorang ahli surga merenung dan merindukan kebahagiaan dunia yang dulu dirasakannya saat masih hidup di dunia. Allah Maha Tahu. Dan untuk menjawab kerinduan ahli surga ini, maka Allah datangkan angin yang membuat daun-daun pada taman surga ahli surga ini bergemerisik. Dan mendengar suara gemerisik dedadunan surga ini, hilanglah semua kerinduan ahli surga ini pada kebahagiaan di dunia yang dulu pernah dirasakannya.

Amiiiin. Semoga seperti itulah yang akan kita rasakan nanti πŸ˜‰


Sebelum batizado di mulai, di Senzala Yogyakarta, diadakan test dan Roda untuk persiapan Batizado dan Troca nantinya. Berikut video yang diupload oleh Istri saya. Lelah sekali melakukan roda angola yang pelan dan bermain di bawah tersebut!

Pada hari Batizado di Bali, capoeirista yang akan naik tingkat ke sabuk kuning, mengadakan roda untuk sesama tingkatan tersebut. Inginnya sih, kami mendapatkan teman Jogo dari lain daerah. Namun ya tidak apa-apalah, akhirnya kami malah bermain dengan teman-teman dari Jogja juga : Mas Zico, Mas Bino, Bram dan saya sendiri :

Salah satu sesi Open Roda yang menyentuh karena melihat Mestre Pedro begitu menghayati Ladainha (bagian dari musik capoeira, dimana pelantun melantukan puji-pujian kepada Tuhan, penghormatan kepada Mestre atau cinta kepada Capoeira) pada video berikut ini:

Berikut adalah sesi Mestre Pedro yang membatizado anggota senzala yang baru akan mendapatkan sabuk putih:

 

Salve!

Manajemen Waktu dan Aktivitas Keseharian Sebagai Remote Freelancer oDesk

Distribusi waktu aktivitas seharian sebagai remote freelancing oDesk
Distribusi waktu aktivitas seharian sebagai remote freelancing oDesk

Akhirnya tiba juga saat saya kembali ke Jogja selepas kurang lebih 8 bulan bekerja onsite di Jakarta. Betapapun besarnya penghargaan dari FAO ataupun Kementerian Kehutanan, sepertinya saya akan tetap memilih bekerja di rumah sebagai freelancer oDesk, dengan syarat, saya bisa mengejar kurang lebih 80% besar gaji sebagai konsultan FAO (20% merupakan overhead living cost saya di Jakarta). Berdasarkan percakapan dengan teman-teman oDesker , bukanlah hal yang tidak mungkin mendapatkan besar pendapatan seperti yang saya harapkan tersebut.

Waktu Kerja

Saya terdorong dua hal mendasar yang membuat saya menseriusi oDesk dan merubah kebiasaan keseharian agar dapat menjelma menjadi faktor penentu kesuksesan di oDesk

  1. Novel The King of Torts – John Grisham. Disitu ada penggalan percakapan,”You don’t retire at 30. It’s not normal”

    Itu yang membuat saya berpikir mendalam : “Bekerja di rumah bukan berarti sudah pensiun dan bisa sesukanya bermain-main dengan waktu. Bekerja di rumah adalah _bekerja_ dengan segala bentuk keseriusan dan pengaturannya”

  2. Percakapan online dengan mas Salnan SW di grup Odesker Indonesia di facebook yang kira-kira, kata mas Salnan, “Saya mendisiplinkan 8jam/hari, dimana pengaturannya adalah 1 jam selepas subuh, 4 jam selepas jam 8-jam 12 dan 3 jam selepas isya. Sisa waktu dibagi untuk keluarga dan istirahat. Dalam seminggu saya mendedikasikan waktu 6hari/minggu, dengan hari libur saya ambil pada hari senin”.Itu membuat saya berpikir, “Owh, benar juga. Tidak ada aturan kerja itu mulai jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Asal bisa memenuhi kuota 8jam/hari, distribusi waktunya bisa disesuaikan dengan aktivitas keluarga. Sehingga bagi anak-istri, saya selalu available”

Anda harus menemukan ritme kerja Anda sendiri. Itulah pokok perubahan mendasar yang harus ditemukan, diperbaiki dan (yang paling penting) dinikmati. Setelah beberapa waktu, saya menemukan ritme kerja saya sebagai berikut :

Waktu Kerja
Waktu Kerja

Saya bisa menggenapi sampai 8jam kerja, yang merupakan hal yang sebenarnya tidak mungkin/jarang dicapai saat berkantor di Jakarta dulu. Sesampai kantor saya paling pagi jam 8.30. Pulang kantor paling telat jam 5. Dipotong perjalanan yg menghabiskan waktu 30menit, dan isoma zuhur dan ashar yang total menghabiskan waktu 2 jam, maka total waktu kerja saya di kantor paling cuma 5-6 jam. Overhead waktu yang tersita sesungguhnya bisa lebih banyak lagi.

Waktu Luang dan Istirahat

Overhead waktu iniΒ  sering terbuang di jalan jika Anda bekerja di kantor, akan bisa didistribusikan untuk diri sendiri dan keluarga dengan lebih berkualitas. Coba perhatikan overhead waktu yang bisa saya distribusikan untuk keluarga jika saya bekerja di rumah sebagai remote freelancer oDesk :

Waktu Luang
Waktu Luang dan Istirahat

Banyak sekali hal positif yang bisa saya maksimalkan di waktu luang ini!
Perhatikan waktu lepas isyra’ (matahari terbit), itulah waktu Al-Fath dan Al-Kahf minta jalan-jalan keliling desa dengan V-ixion. Ini bukan hanya berputar-putar tanpa arah. Namun waktu kebersamaan dengan muatan pendidikan terhadap dunia sekitar : mereka melihat burung yang berjajar-jajar di kabel listrik, melihat petani yang mulai menanam benih padi, melihat tempat produksi genteng, bertanya tentang alam dan saya jawab tentang bagaimana kita harus bersyukur karena Allah menciptakan itu semua. Itu paling hanya menghabiskan waktu 45menit, namun 45menit ini bisa nyaris mustahil Anda distribusikan ke mereka, jika Anda saat itu sudah harus berangkat ke kantor.

Perhatikan juga waktu tidur, yang dibagi antara tidur siang dan tidur malam. Tidur siang merupakan privilege yang terlalu musykil untuk didapat saat saya ngantor. Yang ada ketiduran, dan itu hal yang sungguh-sungguh berbeda ^_^. Total waktu tidur bisa ditembus sampai di batas 7.5jam.

Selain itu, terutama bagi keluarga adalah adanya waktu khusus bagi mereka mulai lepas ashar, maghrib sampai dengan isya. Inilah prime time bagi saya dan keluarga : capoeira, belajar agama, makan diluar dan sekedar bebersih rumah bersama, bisa diisi pada waktu-waktu utama ini. Saat masih ngantor, maka waktu utama ini kebanyakan malah sedang dipakai untuk perjalanan pulang kantor dan beristirahat karena kelelahan dari perjalanan pulang tersebut.

Waktu Ibadah

Mungkin akan ada yang protes, “Bekerja itu juga ibadah, bukan hanya mengaji dan sholat saja lho”. Hm, ya mungkin itu ada benarnya. Namun saya lebih suka meringan-ringkan hal tersebut sebagai sekedar kewajiban untuk mencari nafkah saja. Adapun amalan ibadah vertikal, harus diberikan waktu yang ketersediannya tidak sekedar sesempatnya, namun diprioritaskan. Berikut distribusi waktu ibadah yang merupakan penentu pembagi semua aktivitas-aktivitas sebelumnya :

Waktu Ibadah
Waktu Ibadah

Saya bersyukur dilahirkan sebagai muslim, tetap memilih identitas muslim setelah melalui krisis kepercayaan terhadap Islam dan senang mendakwahkan Islam sepanjang pengetahuan dan kesempatan saya memungkinkan untuk itu. Saya berpendapat, faktor utama kecerahan keseharian ada didalam dua hal :

  1. Sholat berjama’ah 5 waktu tepat pada waktunya di masjid
    Kesempurnaannya tidak hanya terletak saat berangkat ke masjid pada saat adzan akan/sedang/telah dikumandangkan. Namun juga terletak kuat pada apa yang Anda lakukan diantaranya. Ini kesalahan saya sebelumnya. Selepas subuh di masjid, saya sering memilih tidur dan terbangun justru sekitaran jam 7am-8am. Akibatnya? Badan jadi lemas, tidak bersemangat dan begitu banyak keutamaan yang hilang. Mas Salnan dengan tips 1jam selepas subuh yang menggerakkan motivasi saya untuk mengisi waktu selepas Subuh dengan tepat. Makasih mas! ^_^
  2. Sholat dhuha
    Dibagi ke dalam 4rakaat selepas isyra’ (matahari terbit), akan membuat Anda memperhitungkan dengan seksama waktu yang berjalan antara lepas subuh sampai dengan matahari terbit. Jika ringan, bisa ditambah lagi sampai 6,8 atau 12 raka’at. Kesemuanya memiliki dasar hadits dan dengan keutamaan yang berbeda-beda. Cobalah!
  3. Sholat tahajjud
    Ini… saya belajar banyak dari Istri. Bagi saya awal-awal masih terasa berat sekali rela bangun tahajjud saat terjaga. Namun dengan niat memperkuat kemampuan bekerja dari rumah, saya sadar waktu selepas tahajjud bisa dimanfaatkan untuk bekerja. Karena itu artinya saya mencuri start mulai bekerja di saat orang-orang masih terlelap.

Butuh waktu dan keinginan yang tinggi untuk memulai hal-hal tersebut. Namun begitu sudah berjalan, rasanya heran, “Kok dulu bisa-bisanya saya tidur selepas sholat subuh ya? Hadeuh..”

Mengatur Tempat Bekerja

Saat Al-Fath masih kecil, 1-2 tahun, saya terbiasa memangkunya saat saya bekerja. Nah, saya kira itu bisa saya lakukan setelah dia mulai PAUD/TK dan hal yang sama saya kira juga bisa saya lakukan untuk Al-Kahf. Walah, ternyata enggak bisa. Mereka sudah terbiasa bermain-main dengan situs http://www.games.co.id untuk berbagai permainan mendidik berbasis Flash, sehingga awalnya saat saya sedang bekerja, saya justru sering digusur untuk hal tersebut. Haha. Sudah lama saya dan Ela berdiskusi untuk membuatkan mereka pojoknya sendiri. Dan jadilah, di hari minggu malam saat besok senin saya akan mulai ngoDesk dari rumah, kami bersama-sama mengatur separation of concern ini : saya sebagai pekerja yang bekerja secara profesional tidak boleh tercampur dengan saya sebagai ayah yang bertugas diantaranya adalah untuk mengayomi dan mendidik anak-anak. Berjalan dengan sukses! Sehingga kami memiliki dua Pojok Kerja yang dihadapkan ke arah mata angin yang berbeda dan juga berbeda sisi, meski masih di dalam satu ruangan :

Pojok Abi

Pojok Abi
Pojok Abi

Idealnya ini adalah iMac 2012, dan itulah motivasi utama ngoDesk!. Berimbau, pandero, caxixi dan atabaque disimpan disini. Saya pergunakan active speaker di dua sisi, untuk memperkeras musik-musik Capoeira saat saya berlatih sendiri di tempat ini. Anak-anak? Sering ikut rame bergerak2 atau menaiki punggung saya saat sedang push up! Haha

Pojok Kakak dan Dedek

Ini yang saaaangat sangat membahagiakan (aduh, apa sih yg tidak membahagiakan kalau urusannya adalah tentang buah hati??? hehe). Al-Fath sudah lancar membaca, berhitung, menulis dan mengaji (masih Iqra 3 sih). Dengan memiliki pojoknya sendiri yang saya pisah dengan pojok saya, maka dia jadi tambah semangat, “Kalau aku kerja disini ya. Kalau abi disana. Kalau aku kerja, maksudnya aku main game. hehe”. Disini dia sedang main game Quiz anak sholeh. Dia baca pertanyaannya, terus klik jawaban A,B,C atau D. Karena temannya belum bisa membaca, maka Al-Fath akan tanya, “Kowe milih sing ndi Va?”. haha. Medok deh…

Pokok Kakak dan Dedek
Pokok Kakak dan Dedek

Nah, setelah kakaknya sekolah, maka Kahfi akan bersegera ke laptop di Pojok Kakak dan Dedek. Eh, lama enggak saya pantau, ternyata sekarang dia sudah bisa pakai mouse. Dulu dia masih bingung asosiasikan antara gerakan di mouse pada layar laptop dengan gerakan jari pada touch pad. Sekarang sudah bisa. HOREEE!

Kahfi ternyata sudah bisa operasikan laptop pakai mouse;
Kahfi ternyata sudah bisa operasikan laptop pakai mouse;

CAPOEIRA

Tentang ini, senang sekali. Saya bisa ajak Al-Fath dan Al-Kahf bersama-sama latihan di setiap waktu. Uminya jarang-jarang mau ikut. Maka kami bertiga saja yang berangkat bersama-sama, selepas itu ke markaz di Masjid Ittihaad dan sering juga langsung ke resto malaysia di depan gang masjid. Sedaaaap!

KESIMPULAN

Sesungguhnya masih tentative apakah saya akan bisa menjadikan oDesk sebagai sarana kerja utama saya, pengganti FAO/Dephut atau justru tawaran bekerja di Kuala Lumpur. Saya sedang sungguh-sungguh berjuang untuk itu. Reward yang akan saya dapatkan benar-benar luar biasa jika saya sampai berhasil optimal di oDesk di kisaran pendapatan minimal 80% dari gaji sebagai konsultan FAO kemarin.
“Bantu Ya Allah…”

Amiiin