Nasehat Pribadi pada Ijtima Cikampek 2012

Ditempatkan d tempat yg lbh baik, kita yg belum paham

Advertisements

Nuansa Tinggal Tiga Hari di Daerah Bantaran Sungai, Kebon Melati

Taklim Kitab Fadhilah Amal

Prinsip utama dakwah adalah untuk perbaikan diri sendiri. Lingkaran perbaikan diri yang tiada ada putusnya: satu aktivitas dilanjutkan dengan aktivitas lainnya. Semua bermuara pada cara pandang : saya ini lemah, bodoh dan harus selalu memperbaiki diri. Kegagalan dakwah, dimulai dengan seseorang memandang dakwahnya adalah untuk orang lain : “saya sudah cukup dalam ilmu dan amal. Saatnya memperbaiki orang lain”. Karena selama-lamanya hanya kekurangan orang lain yang nampak, tidak sebaliknya.

Saya merasa sangat beruntung berada dalam genggaman usaha dakwah Tabligh Khuruj fii Sabilillah. Atau yang dikenali dengan nama Jama’ah Tabligh. Saya mulai ikut berada bersama-sama dalam usaha dakwah ini semenjak tahun 1998, semester pertama perkuliahan di Jogja. Kekaguman saya yang terutama dalam usaha dakwah ini terletak pada sifatnya yang mampu menyatukan banyak orang yang berasal dari strata sosial yang berbeda – beda (atau bahkan bertolak belakang) ke dalam satu tujuan yang sama : fikir dan risau atas keadaan umat. Anda akan terheran-heran melihat di dalam satu jama’ah, ada seorang jenderal dengan bintang tertentu, tunduk ta’at saat diperintahkan oleh amir rombongan yang berprofesi sebagai Tukang Parkir misalnya. Atau, seorang Kombes (Komisaris Besar) Kepolisian, tidak segan-segan untuk menjadi tukang cuci piring dan bertugas sebagai penyedia makan dan minuman seharian itu. Padahal di dalam jamaah tersebut ada beberapa anak buahnya dari instansi Kepolisian yang sama. Perasaan terharu yang sangat, sering saya rasakan melihat pemandangan ini.

Akhir minggu kemarin, saya bersyukur bisa meluangkan waktu untuk ikut amalan rutin usaha dakwah ini : meluangkan waktu tiga hari tiga malam di Mushola Al-Fatah, Kebon Melati, Tanah Abang. Dan, itulah saat pertama kali dalam hidup saya, bisa bermalam di tempat yang … penuh pengorbanan 🙂

Rumah-rumah berdempetan, sangat sesak. Jalan-jalan gang ada yg bisa dilewati satu motor saja, ada yg dua bahu dan ada yg sebahu. Kami mandi dan membersihkan diri di Kamar Mandi umum yang dibangun di atas sungai yang tidak mengalir alirnya. Setiap mungkin beberapa jam, terdengar berisik suara KRL jurusan Tanah Abang – Palmerah. Keamanan beberapa warga pun terancam jika sampai lengah terhadap kedatangan kereta ini (teman-teman juga berbagi cerita tentang kematian akibat tersambar kereta api).

Namun, alhamdulillah warga daerah ini bersimpati dan mau mendengarkan saat kami datangi dan sampaikan ayat-ayat Allah. Senang begitu di hari terakhir, ada yang bersedia ikut ke masjid untuk mendengarkan nasehat tentang pentingnya agama dan menghidupkan amalan-amalan Rasulullah. Cuma satu orang, yang secara penampilan, tidak terlalu akrab dengan agama. Namun, bersedia langsung datang ke masjid, mendengarkan nasehat agama dan dilanjutkan dengan sholat isya berjamaah. Kebahagiaan saat melihat hal tersebut, sangat indah dan dalam. Semoga beliau, dan juga saya, bisa istiqomah menjaga sholat berjamaah di masjid. Saya merasa lemah sekali dalam hal ini.

Salah satu yang membuat saya terkesan dalam khurujnya kami dalam tiga hari kemarin, adalah adanya anggota Paspamres yang ternyata sangat tawadhu dalam usaha dakwah ini. Saya jd banyak mendengarkan berbagai hal tentang cara pengamanan presiden mulai dari era Pak Soeharto sampai dengan era Pak SBY. Beliau menggunakan kata “Bapak” jika mengacu ke presiden kita yang aktif saat ini. Selain itu, yang sangat menarik, beliau menjadi petugas cuci perang dan penyedia makanan kami selama 1×24 jam.

Amazing….