Memahami Alur Pemikiran Pendiri Bangsa

Memahami Alur Pemikiran Pendiri Bangsa
Memahami Alur Pemikiran Pendiri Bangsa

DRAFT [Akan dielaborasi lebih lanjut] – Namun, saya menggunakan kerangka berpikir yang selaras dengan Pakde Jokowi : belajar sejarah, demi memahami alur pemikiran Pendiri Bangsa. Sehingga dengan demikian, kita tidak akan set-back ke era Pra Kemerdekaan dan berkurang terus-menerus di kondisi stagnan yang tentu tidak diharapkan mereka.

Ā 

Merdeka!

Advertisements

Menjatuhkan Pilihan ke Jokowi dan PDIP

Image

Saya jadi heran, setiap kali saya memberikan argumentasi yang mendukung Pak Jokowi, pasti saudara seiman ini — Seand Muub Munir– menuduh saya syi’ah liberal (eh, itu pakai tanda garis miring kan?)

Entah kenapa, meski saya konsisten –alhamdulillah– dengan iman Islam saya, cuman dari dulu saya ga bs memandang sesama manusia lain terkotak-kotak berdasarkan ras dan agamanya. Dari pola pikir ini, saya ga bs memandang sesama elemen bangsa sebagai musuh: hatta dia syi’ah, liberal, kristen, buddha atau hindhu. Atau, hatta dia keturunan dari ras lain sekalipun.

Saya ga bener2 sadar cara berpikir saya ini, sampai saat saya SMA. Saat itu saya baru denger ada temen2 yg kurang suka (tp disembunyikan) dengan temen2 keturunan Tiongkok misalnya. Heran bangedh, “Lah kenapa? Saya ga pernah milih jd orang jawa kok, dia jg begitu. Ga milih dilahirkan dari rahim ibu yang dari Tiongkok”. Kirain cuman itu aja. Tapi sampai kemarin kerja di jakarta… lah, kok memang ada ya yg spt itu? cc Frans Thamura : kayaknya gw naive bangedh ya ama sifat manusia… šŸ˜¦

Hal yang berat saya hadapi dengan status Islam saya. Laa ilaaha illallah, Muhammadurrasulullah, itu ga akan bs berubah. Ga ada kompromi disitu. Sampai kapanpun. Tapi.. saya hidup di negara yang unik jhe: ga negara sekuler murni, juga ga negara agama murni. Meski dilalui dngan cara pandang fundamentalist (menolak segala sesuatu yang menurut saya tidak lahir dari Islam secara formil, meski secara nilai2 sesungguhnya itu terpenuhi), akhirnya di satu titik saya merasa malu dengan Ir. Soekarno dan para pahlawan ’45 disaat menilai perjuangan mereka sesat karena memperjuangkan Pancasila, alih2 Islam. Maka saya mulai mencari pemikiran yang berada di titik tengah yang tidak bertentangan dengan nilai2 Islam dan dalam konteks cocok dengan kultur Indonesia. Yup, jawabannya Pancasila.

Memahami bahwa negara ini sudah memiliki landasan bernegara yang diterima semua elemen bangsa, maka saya kemudian jd mengerti : tetep akan ada golongan yang enggak suka dengan Pancasila. Enggak ikhlas. Enggak suka dengan keberagaman. Atau, dari sudut pandang lain, berpikir bahwa bangsa ini selalu ada dalam kondisi perang ideologi terus-menerus.

Akibatnya? Selain golongannya adalah musuh.
Setiap usaha u/ menyatukan elemen bangsa yang berbeda-beda, adalah kesesatan. Setiap yang tidak mendukung golongannya adalah sesat.

Anda mungkin ga akan benar2 paham yg saya maksud ini, atau tepatnya confused. Why? Karena saya tetap yakin dengan Islam sebagai satu2nya agama yang diridhoi Tuhan. Sehingga, Islam harus terus didakwahkan ke seluruh alam, demi umat manusia itu sendiri. Namun, dalam konteks kebernegaraan, hal tersebut harus dibalut dengan Pancasila. Sehingga, elemen bangsa lain yang tidak berkeyakinan Islam akan tetap nyaman dan tentram disekitar kita.

Sesungguhnya, Anda harus memandang Pancasila sebagai strategi dakwah Islam yang jitu: negara damai, tanpa sengketa sektarian. Sehingga, kaum muslimin bisa bergerak berdakwah ke penjuru negeri tanpa takut adanya penolakan yang intense terhadap Islam.

Teringat akan apakah ?
Betul, Perjanjian Hudaibiyah. Saat itu hanya Sayyidina Abu Bakar r.a yang menerima, sahabat2 yg lain menolak, utamanya Sayyidina Umar r.a. Karena secara sekilas kaum muslimin dikalahkan dengan perjanjian ini (Hudaibiyah/Pancasila), namun secara real-nya.. dakwah terus diterima: 3hari,40hari, 4 bulan. Tidak ada yang keras menolak jama’ah dakwah lagi. Luangkan masa u/ berdakwah, non-politik, baru Anda akan mengerti apa yang saya maksud. cc Abi Fathir Al Metalliqy

Atau, masukkanlah unsur Politik ke dalam dakwah Islam,… maka habislah semua bangsa tereduksi hanya menjadi dua saja: golongamu atau golonganku.

Jangan Sia-Siakan Pengorbanan Mereka

Berpikir Lebih Jauh Tentang Ke-Indonesiaan

Latar belakang artikel ini : “Antri ngurus atm BCA ayah yang hilang karena kena copet, dan baca artikel bagus tentang Membangun Indonesia Kecil di Tribun Jogja dalam rangka menyambut 50 Tahun Kompas Gramedia”

Kata-kata dalam artikel tersebut yang menstimulasi pikiran saya, yang selanjutnya saya tuangkan dalam artikel ini, adalah poin-poin berikut:

  1. Ā Membangun Indonesia Kecil,
  2. Dengan sikap mental yang tidak Jumawa dan Arogan. Dalam arti sadar diri.
  3. Indonesia Kecil, dimana Indonesia tidaklah terkotak-kotak,namun terdiri dari keragamanĀ  dengan keunikannya sendiri-sendiri, yang tidak berarti melebur.
  4. Providential dei, yang mengandung makna semua tersebut terwujud karena adanya penyertaan Allah.

 

Semakin lama, saya semakin menikmati perasaan bahagia ini. Perasaan bahagia karena menerima dengan ikhlas, bahwa Allah mengatur kelahiran saya di negara yang sudah terbentuk dan dibangun oleh Bapak Bangsa, dengan cirinya tersendiri. Ada kalanya, di masa lalu, dimana saya berharap dilahirkan di Negara Islam. Atau tepatnya, berharap dilahirkan di jaman kenabian, dan dekat-dekat dengan Rasulullah.

Namun, bukan itu yang terjadi. Allah mengatur kelahiran saya si Indonesia, di masa kurang lebih 1400 tahun setelah masa kenabian di tutup. Proses bersyukur tersebut, sesungguhnya mudah saja, dengan satu syarat : Jangan Mencela Bangsa dan Negaramu Sendiri. Boleh prihatin dan bersedih hati. Namun hindari mencela dengan kata-kata semisal, “Dah, gapapa nih. Emang begini ini di Indonesia”. Atau, “Payah nih Indonesia. Gini-gini mlulu”. Atau yang mengkuatirkan, “Indonesia ni negara taghut, dasar negara harus diganti”. Gawat nian kalau sudah begitu… šŸ™‚

Pahlawan Pendahulu kita, mengorbankan jiwa raganya dalam kehidupan yang tidak bisa saya bayangkan penderitaannya, dengan hasil yang sudah kita nikmati bersama : kemerdakaan. Saya ingat kata-kata bahwa kemerdekaan ini adalah modal dasar untuk apapun kemajuan yang ingin kita capai. Atau kalau dispesifikkan ke apa yang dikatakan Ahok, “Menjadi bangsa yang maju sangat mungkin!”, kurang lebih begitu.

Sudah selayaknya, atau justru, Wajib bagi kita, untuk setiap saat mengisi hari dengan membangun Indonesia Kecil, dengan mengembangkan sikap mental tidak jumawa dan tidak arogan. Ejawantahkan dengan menambah kemajuan kualitas kehidupan kita secara pribadi dan bersama, di bidang yang kita kuasai, dengan lingkup kecil, sesuai kemampuan kita, namun dengan landasan untuk Membangun Indonesia Kecil.

Entah dengan Anda, tapi menurut saya jika kita melakukan hal tersebut, Para Pahlawan Pendahulu kita bisa tersenyum lega dan berucap, “Njiiih, puniko leres nggih…” šŸ™‚

Merenung Tentang Ideologi yang _harus_ Dipilih

Event Puncak Penentuan Ideologi Bangsa Indonesia

Tidak mesti ada yang harus diperjuangkan, ini hanya sekedar renungan. Pun, itu tetap akan memberikan arah bagi konsistensi dialog, cara berpikir, dukungan dan -mungkin juga- aksi-aksi kecil. Poin penting yang harus diingat adalah : Anda tidak akan bisa memuaskan setiap orang/golongan. Hatta, Anda seorang Nabi sekalipun (dan Anda jelas bukan).

Menyimpulkan di awal, saya bukan yang dulu lagi. Itu jelas bagi saya pribadi.
Atau mungkin lebih tepat dikatakan, dulu saya belum merasa menemukan idelogi yang _saya_nilai_ sesuai dengan kultur saya : Indonesia.

Teringat, ada masa, dimana saya menolak memberi hormat kepada Bendera Merah Putih. Alasannya? Syirik. Atau, ada masa dimana saya setuju dengan kata2, “Pancasila adalah berhala. Harus diganti dengan Islam”. Atau setuju dengan kata2, “Jika suatu negara tidak berlandaskan pada Islam, maka itu berarti ia berada dalam kesesatan. Karena selain Islam, adalah taghut”. Atau dalam kata2 yg lebih utopia, “Tidak ada yang disebut dengan negara. Yang ada adalah Islam”. Namun, saat itu saya tetap tidak bisa setuju dengan adanya korban berupa harta/benda/nyawa akibat dari perjuangan yang mengatasnamakanĀ semua hal tersebut. “Korban syahid. Tidakkah begitu?”. Kalau konteksnya merebut kekuasaan di suatu negara, saya susah sekali mencerna itu adalah korban syahid. Karena jika perebutan kekuasaan sudah menjadi tujuannya, akan sangat tidak mungkin mengharapkan keikhlasan dari setiap pejuang-pejuangnya.

Sungguh saya merasa kerdil dan sekaligus sombong, jika saya menilai pejuang-pejuangĀ era ’45 melakukan kesalahan dengan memperjuangkan itu semua. Mana mungkin saya berkata, “Sesat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengatasnamakanĀ bangsa/nasionalisme u/Ā hal tersebut”, padahal saya tidak pernah hidup dalam alam penjajahan, dimana saya tidak bisa membayangkan, bahwa sekedar menggunakan bahasa Indonesia saja, membutuhkan perjuangan. Dari titik tolak itulah, perubahan ideologi pribadi saya, berangsur-angsur dimulai.

Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Beliau telah meletakkan dasar negara ini, Pancasila. Yang disetujui secara umum rakyat Indonesia dari Sabang ~ Merauke (saya katakan secara umum, karena pada kenyataannya setelah proklamasi, masih ada gerakan-gerakanĀ separatisme : DI/TII, NII, Permesta dsb). Pun, tidak bertolak belakang dengan ajaran Islam. Dasar negara inilah yang harus dipertahankan dan diperjuangkan, amanat dan titik kulminasi perjuangan para pahlawan pendahulu bangsa ini. Jika di masa ini masih ada pemikiran-pemikiranĀ yang berkeinginan merubah dasar negara ini menjadi sesuatu yang lain (Islam misalnya), maka itu berarti kita set-back ke era pra-kemerdekaan. Dan tumpah darah seluruh pahlawan harus diulang kembali. Entah dengan Anda, namun bagi saya itu kesia-siaan jutaan nyawa dan penderitaan yang tidak boleh diulang kembali.

Quran jelas menyatakan, bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bergolongan-golongan, dengan tujuan agar saling mengenal. Ayat tersebut benar-benar membahagiakan. Ayat tersebut tidak mengharapkan seluruh bangsa di dunia ini menjadi satu. Menjadi bangsa Islam. Ayat tersebut justru memberikan penekanan kepada kita u/Ā mengenali keunikan diri kita, mengenali prinsip-prinsip yang membedakan bangsa kita dengan bangsa lain, untuk selanjutnya bergerak mengenali bangsa-bangsa yang lain. Kita akan dikenal oleh dunia sebagai bangsa yang unik : Bangsa yang berlandaskan Pancasila. Bukan bangsa yang berlandaskan Islam.

Rasanya di titik ini, saya mungkin sudah mendapat kecaman dari teman-teman seiman saya, “Waduh, sesat ini! Tidak mau memperjuangkan Islam”. Saya berpendapat, Islam tidak memerintahkan kita menegakkan negara Islam. Saya tidak bisa membayangkan, apa jadinya jika di saat era proklamasi tersebut, Pak Soekarno memilih ideologi Islam sebagai landasannya. Niscaya, setelah bebas dari penjajahan Jepang (dan Belanda), kita akan memulai peperangan saudara yang tidak akan pernah berhenti : satu golongan akan silih berganti menggantikan golongan lainnya, melalui sengketa perebutan kekuasan yang menghalalkan darah satu sama lain, karena adanya keyakinan bahwa dirinya berada pada Manhaj yang benar, dimana lainnya berada pada manhaj yang sesat. Lihatlah sejarah negara-negara yang menggunakan Islam/memperjuangkan Islam sebagai basis ideologinya : perebutan kekuasaan yang tidak pernah berhenti. Mesir, anyone?

Akhir kata, saya benar-benar bersyukur dilahirkan di Indonesia. Di negara ini, saya benar-benar bebas menegakkan amalan-amalan agama Islam dengan tanpa perasaan takut dan intimidasi. Pun, ini yang kita harapkan bagi teman-teman sebangsa dan setanah air dari manapun agama dan kepercayaannya (meski, kita masih dapati di negara ini terkesan masih adanya diskriminasi terhadap agama dan kepercayaan minoritas). Bersyukur dilahirkan dalam keadaan merdeka, sehingga keluar rumah pun tak takut ada rentetan senjata. Cari makan di malam hari pun, tak takut akan adanya pemberlakuan jam malam. Belajar dan mengajar pun, tak takut akan adanya spionase dari penguasa.

Tidakkah Anda bersyukur dilahirkan di Indonesia dan ingin memperjuangkan serta memperkuat eksistensinya?

DIRGAHAYU KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA YANG KE-68!