What the hell is Google Adsense? – I am challenged!

goo

Hm, mereview singkat riwayat pekerjaan koding saya, … let see:

  1. Kerja kantoran: Done.
  2. Konsultan IT:Done.
  3. Freelancing achak-adhut:Done.
  4. Freelancing online: Done.
  5. Remote worker: Done.
  6. Delegasi pekerjaan remote: on going.

Cuman kok saya baru nyadar, kalao untuk urusan Google Adsense (internet marketing?)… saya 0 besar. Dan meluangkan waktu sejenak… “Damn, ini kalau berhasil menguasai celah karir yang ini… akan menyenangkan juga!”. Premise saya spt ini:

Jika channel income dengan Adsense berjalan… saya bisa koding benar-benar sebagai hobi kan?

Soalnya, .. bbrp bulan ini saya ga bisa lagi menikmati koding sebagai hobi. Ga mungkin kan bilang, “Males euy Bos ngerjain modul yg ini. Lagi pingin buat simulasi traffic mudik”. Panjang itu urusannya nanti…

So, saya ingin –somewhere in the near future– melepaskan semua pekerjaan koding saya, dan benar2 total berusaha menjajagi jalur income dengan Adsense. Once that works, … coding as pure hobby, will be possible again (after 21 years)

Bismillah…

Advertisements

Kesuksesan Jogja pada Event Hackathon Merdeka 2.0!

Amazing!

Jogja Kentongan Juara!!! 😁😁😁. Kedaden iki selfie karo RI-1 😁😁😁

A post shared by Eko S Wibowo (@swdev) on

http://inet.detik.com/read/2015/11/16/093107/3071827/398/ini-dia-para-jawara-hackathon-merdeka-20

Mengirimkan 3 tim yang lolos dari seleksi lokal, semuanya lolos ke grand final 20 besar nasional!

Setelah pitching yang sangat dekat dan menegangkan, akhirnya satu tim lolos: Tim Kentongan dari SkyShi!

Kalau saya menilai dari sudut pandang pribadi, aplikasi dari Kentongan sifatnya membumi: aplikatif dan langsung bisa menyelesaikan permasalahan manajemen kependudukan dari level paling bawah.. level RT.

Grand final di adakan di Menara Multimedia, Telkomsel, Kebon Sirih, Jakarta. Dihadiri oleh beberapa menteri (Pak Rudiantara dan Pak Yudi), serta tak lupa dikunjungi.. Ahok! Yeeeiy!

Yes! Selfie dengan DKI-1 done, selfie dengan RI-1 to go! Amiiin #telkomhackathonmerdeka2

A post shared by Eko S Wibowo (@swdev) on

Keberhasilan Kentongan lolos ke tahap final, akan membawa tim ini (dan PIC jogja, yaitu saya 😀 ) menuju presentasi final di hadapan RI-1. Amiiiin.

Selfie with Ahok done, RI-1 to go!
Amiiin

Ultah Kahfi ke-5, Ultah Senzala ke-16, One-Month Trial@SaleStockIndonesia dan Project Lead Jogja Hackathon Merdeka 2.0

In chronological order, this post summarized all four events happened in my life!

Ultah Senzala ke-16! Semangat dan melepas semua beban, untuk berbaur dalam alunan ritmis berimbau!

A post shared by Eko S Wibowo (@swdev) on

One month trial in this amazing startup with fast growth!

A post shared by Eko S Wibowo (@swdev) on

Hackathon Merdeka 2.0!

A post shared by Eko S Wibowo (@swdev) on

Totally amazing and challenging life!

Freelancing: perbedaan antara freelancing offline, online dan fulltime remote employee — Dan tahap selanjutnya…

Acara ini seru! Banyak berbagi dan saling memotivasi. Penting: karena dunia freelancing macem dunia maya. Ga terlalu jelas track-nya
Acara ini seru! Banyak berbagi dan saling memotivasi. Penting: karena dunia freelancing macem dunia maya. Ga terlalu jelas track-nya. http://jogjafama.splashthat.com

Kadang kalau kita mikir freelancing, atau denger seseorang bilang freelancing, pemahaman subliminal kita gini, “Owh, orang yang ga pnya kantor, terus dia pindah dari satu job ke job lain, dan dibayar begitu job selesai”. Gitu? Boleh dibilang iya, tapi itu sekedar salah satu case aja. Saya coba disini mendaftarkan beberapa tahapan “freelancing”: yang sebenarnya malah ada jenis yang ga bisa dibilang freelancing lagi. Let see ya (sebagai “freelancer”, coba letakkan dirimu dimana di daftar ini).

  1. Freelancer offline.
    Saya bilangnya .. freelancer acak-adhut 😀
    Why? Soale blas ra jelas jenis freelancing-nya gimana. Segala job disamber aja (demi dapur ngephul). Kerjaan yang digarap sifatnya lokal deket2 rumah aja. Kadang ngerjain job yang mayan gede: tapi harus pergi ke kota lain, nggarap disana. Balik ke kota asal, masih tetep mikir maintenance kerjaan yang di kota lain tersebut. Enak? Ga banget. Puyeng. Mana bayaran ya .. masih ga bener juga. Podo wae (cuman dah mulai ada kebebasan kerja. Masih okay)

    Umumnya asosiasi freelancing itu ada di definisi yang ini: padahal ga selamanya bener. Kemungkinan besar, semua freelancer pernah ngalami masa-masa jadi freelancer acak-adhut ini. Kalau Anda sampai ga pernah mengalami fase ini: selamat! Kemungkinan Anda mulai berkarir di saat gerakan freelancer online sudah mulai umum (ya sekitar 2012 ke atas)

  2. Freelancer online.
    Bottom line: bayarannya pakai kurs USD gaes! (nasionalis banget saya yaks.. haha)
    Bersyukurlah Anda jika memulai karir langsung di fase ini: nasib yang baik. Freelancer disini menggunakan satu layanan website marketplace kerjaan-kerjaan online yang berasal dari seluruh negara yang ada di dunia (not an exaggeration there! Cek: upwork.com atau freelancer.com). Kerjaan dibagi menjadi dua macem: fixed price (dibayar kalau dah rampung, atau berdasarkan termin tertentu) dan hourly (begitu mulai kerja: saat itu sudah dibayar). Karena history pekerjaan tercatat secara online, semua freelancer mendapatkan semacem track record/prestasi pekerjaan yang bisa dilacak dengan jelas. Begitu satuuuu saja pekerjaan online bisa Anda rampungkan: itu akan jadi landasan yang bagus sekali untuk kerjaan berikutnya.

    Meski disini freelancer masih harus apply job baru jika job yang lama sudah selesai, tapi kompleksitas yang aneh2 ada di jenjang freelancer acak-adhut sudah ga ada lagi. Sekedar duduk manis di depan Macbook (apa? laptop? ganti dunk.. wkwkw), Anda akan bisa berburu job baru: yang sesuai keinginan. Beda banget kan dengan job offline yang kadang Anda ga bs nolak? (Mau dapur ga ngepul apa kalau nolak?…)

    Tapi yang asyik itu, kalau Anda jadi …

  3. Fulltime Remote Employee
    Damai.
    Kadang-kadang malah terlalu damai: jadi rada boring. 😀
    Fulltime Remote Employee itu sama persis, plek, dengan pekerja kantoran biasa yang punya load kerja 8h/day, 40h/week, tapi semua pekerjaan dikerjakan dari rumah. Bayaran sudah bukan per-job lagi. Tapi yaa gaji. Macem pegawai kantoran Bulanan. Tapi tetep Anda dibayar berdasarkan waktu yang Anda log sebagai waktu kerja. Kalau sakit misalnya. Ya udah. Ga dibayar 😀 (beda yaks sama pegawai yang tetep dibayar meski sakit. Atau malah ada jaminan asuransi segala)

    … tapi tetep lebih enak kerjaan fulltime remote employee ketimbang kantor lokal. Lha wong 1 minggu kerja remote, itu bisa setara dengan 2 bulan kerjaan lokal. Mana ga ada stuck di trafik pulax…

    Mudah ga dapet kerjaan fulltime? Mudah.

    Syaratnya: Anda harus punya portfolio yang mengesankan (github/blog/etc) dan punya prestasi kerja yang bagus di awal-awal bekerja di job yang saat itu masih bersifat paruh waktu (paling di-test 1-2 minggu aja).

    Don’t worry. Hanya kasus khusus saja seorang freelancer online ga bisa jadi fulltime remote employee (atau ada juga yg ogah jd fulltime remote employee: pingin tetep bebas). Anda akan beruntung kalau nyemplung di perusahaan startup atau yang sudah established. Itu selama perusahaan masih ada (dan Anda bagus kerjanya), sudah deh. Fulltime pasti 🙂

    Penekanan saya satu hal aja: make sure komunikasi lancar. Anda selalu bisa online di Skype (atau media chat yg lain untuk bekerja). Respon email-email yang berhubungan dengan kerja cepat.

    Dan jujur.

    Jujur? Ya. Jujur di dimensi kerja jarak jauh ini sering rumit lho. Misalnya, kalau ada halangan kerja (either teknis / non teknis), jujur aja. Jangan ditutup2i (awal2 kita kadang pengin sebaik2nya, terus jadi ga berani jujur). Kalau ga bs ngerti suatu baris kode misalnya: tanya aja. Jangan malu. Kalau misal satu hari itu ga ada progress, jangan tutup2i, “Sudah jadi bos”. Terus diutak-atik semalem.. stuck. Gawat itu. Jujur aja ga bisa: senior pasti mau banget ngebantu.

    Kalau Anda sudah jadi fulltime remote employe, maka langkah selanjutnya adalah…

  4. Startup (?)
    Kok pakai tanda tanya dikurung segala?
    Lha ya saya juga belum mulai. Wkwkwkw. Jadi saya kasih tanda tanya aja deh

    Tapi intinya, disini Anda mengurangi load kerjaan pribadi, dan didelegasikan ke individu/team/staff lain.
    Untuk apa? Main-main? Enggak.

    Load waktu yang sudah bebas, Anda gunakan untuk mengeskplor berbagai kemungkinan kerja yang kemarin-kemarin ga mungkin dilakukan karena Anda masih sibuk jadi fulltime remote employee.

    Terserah: mau nulis buku, garap produk atau belajar hal yang baru.. terserah.
    Tapi sudah jauuh lebih nyaman: cash-flow sudah terjaga kan ?

Kurang lebih begitu.

Semoga bermanfaat!

PS: Artikel ini saya tulis sebagai jawaban salah satu teman yang sudah berhasil nembus kerjaan oDesk/UpWork dengan rate petugas kebersihan di Australia ($15/hour… coba deh kali dengan 160jam x Rp. 14.000.. sebulan dpt berapa tuh?). Doi bertanya, “Gimana cara supaya cepat jadi fulltime employee?”

Nah sekalian saya tulis yang rada lengkap deh!

3k Milestone!

3k Milestone!
3k Milestone!

Menggunakan tool dari mas Ai Jogja, kami para oDesker dapat menampilkan income chart baik bulanan / mingguan dengan lebih mengasyikkan. Dengan itu, alhamdulillah, di bulan Maret ini income saya via oDesk sudah bisa menembus batas psikologi 3000USD/bulan. Phew… finally.

Namun… 😀

Salah satu alasan konyol kenapa di bulan Maret ini saya bs menembus 3K, itu adalah karena di bulan ini… jumlah Rabunya ada 5. Haha. Kalau cuman 4minggu secara biasa, yeah, “sekedar” nembus 2700-2800 USD aja. Meski, dengan dollar yang ratenya semakin (alhamdulillah) naik ini, jumlah segitu sudah nembus lebih dari 30jt lho. That’s worth to note guys!

Anyway, sesungguhnya ada tiga batasan psikologi yang saya sukai/saya tetapkan, yaitu:

  1. 1K : lebih dari 10jt/bulan. Ini .. ukuran gaji lokal yang sudah okay banget. Namun, untuk skala internasional, masih kecil sekali (lha wong saya pernah ditawari posisi TS dengan kata2 pembuka, “Maaf Ko, tapi ini gajinya kecil sekali. Kamu mau ga? Cuman 1,200USD..”. Asyem. Kqkqk
  2. 3K: lebih dari 30jt/bulan. Ini .. sudah ga masuk akal u/ kerjaan lokal sebagai programmer. Saya ga bs bayangkan jumlah sebesar ini kalau saya sekedar jd programmer lokal di kantor2 Jogja (atau mungkin jg Jakarta). Padahal, u/ skala internasional (let say.. US/Aussie), jumlah ini masih masuk level Janitor sekolah aja. Lagi2, “Asyem tenan”. (lemah banget ya, kurs kita..)
  3. 5K: lebih dari 50jt/bulan. Ini, dari perspektif saya, di posisi programmer internasional, sudah masuk ke level amazing. Honestly, saya masih belum bs membayangkan bs sampai ke level ini di tahun 2015. Kalaupun iya, sptnya saya harus upgrade skill atau ubah sistem dari kerja sendiri ke kerja sebagai agency. Jangan salah lho, kerja sendiri pun temen2 oDesker Indonesia ada beberapa yang bisa menembus level ini (salah satunya mas Syaiful Sabril dan mas Aditya Agustyana.. both are my mentor!)

By the way, catatan penting jika Anda melihat monthly income seorang freelancer di suatu bulan tertentu, “Ya sudah. Itu ya income di bulan itu. April? Ga ada jaminan. Bisa aja tiba2 stop” 😀

Jadi, kalau Anda seorang PNS yang baik dan benar, dan yang terbiasa dengan pola income fix bulanan, jangan langsung secara alam bawah sadar menghitung, “Wow, berarti setahun mas Eko dapatnya sekitar 3000 usd x 12500 x 12 = Rp. 450juta. Hampir 0.5M!”. Ga juga. Iya segitu, tapi hanya bs diketahui di bulan Desember akhir! 😀 Amiiiin..

Keep up guys!

Change of Blog Title – Ternyata, Nasehat Nenek Benar: Nggak Boleh Malas

Ternyata saya suka Tipe-X: semangatnya senada dengan The Beatles: meski esensi lagunya tentang kesedihan, tetep aja dibawakan dengan nada-nada yang ceria.

Sejauh ini, saya suka banget mengulang2 lirik berikut (yang saya jadikan tagline blog ini):

Ternyata, nasehat nenek benar: nggak boleh malas
Ternyata, nasehat nenek benar: nggak boleh malas

Dan tagline tersebut akan menggantikan tagline lama dari Bob Marley berikut:

Emancipate yourself from mental slavery none but ourselves can free our mind
Emancipate yourself from mental slavery none but ourselves can free our mind

So, mari kita semakin giat dan cerdas dalam bekerja 😀

Itu harapannya guys!

Mac on a Beat

Pengaruh Honda Beat Pop kepada Resolusi 2015 Saya

Di awal tahun ini, saya menetapkan trophy untuk 2015 adalah Yamaha R-25. Ga mungkin ada pria yang ga kesengsem dengan motor balap macam ini. Kebayang serunya memacu motor dengan spek racing spt ini. Namun…

Semuanya berubah begitu saya membelikan Ela sebuah Honda Beat Pop putih: karena setelah saya coba mondar-mandir kesana-kemari: “Weh, kok nyaman banget ya?”. Menilik sejarah masa lalu saat masih ngontel, saya itu ga pny pengalaman naik motor mattic. Mungkin kalau dulu pernah naik mattic, saya ga akan milih Vixion deh. Nyamannnya bener2 ngebuat banyak2 bersyukur.

Mac on a Beat
Mac on a Beat

Terus? Gimana dengan R25? Tau deh ini.

Lagipula setelah dipikir2, saya eman euy, mau ngelepas Vixion (masa ada dua motor cowok di rumah?). Ini motor pertama yang saya beli dengan jerih payah mengolah … skripsi (haha). Sak jogja. Kqkqkq (eh, kadang jg luar kota: Salatiga, Semarang dan juga Jakarta). Monumental gitu deh.

So, kemungkinan Vixion 2008 akan saya pertahankan, namun saya modif untuk mengenakan jubah Full Fairing style either R25 atau R1. But still, kurang sreg dengan modif dengan fiber seperti ini: sure, bulan2 awal masih keliatan gress. Tapi kalau dah kena panas-dingin setahun aja, akan keliatan pecah2 dan akhirnya malah jadi macem kemana2 bawa sampah plastik.

Moga-moga Yamaha mengeluarkan versi resmi Fairing u/ Vixion lama deh.

Kesimpulan: Masih galau 😀

Resolusi 2015? Ya sudah. Umroh sekeluarga aja deh.. (pakai deh pula) 😀

Bismillah